Prodi IKOM adakan acara Bedah Buku Kiai Lokal yang Mengglobal

Senin, 18 Desember 2023 bertempat di conference room Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, program studi ilmu komunikasi menyelenggarakan acara bedah buku sebagai UAS mata kuliah Pengantar Studi Islam, dua kelas yang berpartisipasi dan menjadi penulis dari 2 buku yang hari ini di rilis yaitu kelas B dan C Ilmu Komunikasi Angkatan 2023. Acara ini membedah Buku karya Mahasiswa yang diterbitkan oleh Galuh Patria, buku yang berjudul “ Kiai Lokal Yang Mengglobal” meupakan wujud dari kiprah para kiai yang ditulis oleh penulis dalam menyebarkan agama islam.
Acara dibuka oleh bapak Achmad Zuhri, M.I.Kom sebagai dosen mata kuliah pengantar studi islam, Bedah buku mendatangkan tokoh yang sangat luar biasa yaitu Kiai Nur Khalik Ridwan beliau merupakan sebuah ulama lokal yang dijogja tepatnya piyungan, Bantul dan sekitarnya, Menurut beliau acara ini sangatlah bermanfaat untuk melatih kepenulisan mahasiswa, pembahasan tentang buku ini adalah bagaimana seorang kiai yang menjadi sosok tokoh penting dalam lapisan masyarakat. Diskusi yang pertama mengenai Kyai bukanlah sembarang gelar yang biasa diberikan kepada orang-orang; sebaliknya, kyai adalah gelar yang disematkan kepada individu yang telah mengabdi pada masyarakat di daerah tertentu. Gelar ini biasanya diberikan oleh masyarakat sebagai pengakuan atas dedikasi mereka dan kiprah dalam menyebarkan agama. Kyai dapat menempati berbagai bidang, termasuk yang mengajarkan Al-Qur'an, ilmu fiqh, memberikan nasihat keagamaan, bahkan yang memahami hal-hal klenik (Supranatural) dan memiliki kemampuan mengobati penyakit batin.
Penting untuk menyoroti variasi peran yang dapat diemban oleh seorang Kyai. Para Kyai tidak hanya terbatas pada pengajaran Al-Qur'an atau ilmu fiqh, melainkan juga memiliki pemahaman mendalam terhadap nasihat keagamaan dan bahkan hal-hal klenik (Supranatural). Kemampuan mereka dalam mengobati penyakit batin menjadi bagian dari kompleksitas peran Kyai dalam masyarakat. Diskusi selanjutnya dapat menggali makna dari sifat-sifat yang sering dikaitkan dengan Kyai, seperti zuhud dan wara'. Bagaimana mereka mampu menjaga diri dari godaan dunia dan memperhatikan hal-hal yang samar dan haram. Ini menjadikan Kyai sebagai sosok yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga integritas moral yang tinggi.
Penting untuk meresapi filosofi bahwa puncak ilmu bagi seorang Kyai adalah pengabdian. Mereka mengabdikan diri tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, dilihat dari kebermanfaatan bagi sesama adalah tujuan yang paling utama. Kutipan "Khoirunnas anfa'uhum linnas" menjadi penegas bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi manusia lainnya, sebuah prinsip yang menjadi landasan moral bagi seorang Kyai.
Diskusi kemudian dapat bergeser pada peran Kyai dalam konteks masa kini. Diperlukan Kyai yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga memiliki sifat netral dan dapat beradaptasi di berbagai lingkungan. Pengaruh Kyai yang dapat dirasakan dalam jangka waktu yang lama, sebagaimana tercermin dalam relevansi kitab tafsir al-Jailani di era sekarang.
Dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang Kyai bukanlah suatu tujuan, melainkan panggilan untuk menjadi seorang wali. Masing-masing Kyai memiliki peran dan porsi dalam masyarakat, dan mereka melaksanakan peran tersebut dengan tulus dan penuh keikhlasan. Bedah buku ini akan menjadi kesempatan untuk memahami lebih dalam peran dan makna di balik gelar Kyai serta memperoleh wawasan yang mendalam tentang nilai-nilai yang mereka perjuangkan.