Semiloka Komunikasi Antar Budaya: Komunikasi adalah Kunci Toleransi

Selasa, 19 Maret 2024, Program Studi Ilmu Komunikasi melaksanakan semiloka komunikasi antar budaya yang bertempat di Interaktive Center Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga. Pada tahun 2019, Yogyakarta pernah dinobatkan sebagai 10 besar Kota yang Intoleran. Walaupun saat ini Yogyakarta sudah lepas dari julukan tersebut, namun nyatanya fragmen-fregmen intoleransi masih ada dan dirasakan oleh minoritas orang.

Dibuka oleh Latifa Zahra M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya dan Agama kelas B. Kegiatan ini menghadirkan Reboudi Mahardika Pamungkas dan Imfakwak Kapisa. Re, panggilan dari Reboudi Mahardika Pamungkas merupakan penganut agama konghucu dan beretnis Tionghoa. Re bercerita bagaimana sulitnya mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) saat dia menuliskan agama aslinya, yaitu konghucu. Selain itu, dia juga menyampaikan sulitnya mendapatkan guru Agama Konghucu saat dia bersekolah. Keadaan yang mirip juga diceritakan oleh Inka (panggilan Imfakwak Kapisa). Faktor kulitnya yang hitam serta rambutnya yang keriting sering membuat dia mendapatkan perilaku diskriminasi. Stereotype Papua yang urakan juga sering menyulitkan Inka dalam mencari kos di Yogyakarta. Inka juga sering merasa risih dengan pertanyaan orang mengenai keadaan Papua. “Apakah Papua ada jalan raya? Apakah Papua ada Mall?”. Inka menjelaskan bahwa Papua, Jayapura (tempat dia tinggal) sangat mirip dengan Kota Solo.

Intoleransi disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpahaman, stereotip negatif, politik identitas, dan faktor-faktor sejarah yang kompleks. Upaya untuk mengatasi intoleransi di Indonesia melibatkan pendidikan tentang toleransi, penegakan hukum yang adil, dialog antarkelompok, serta promosi nilai-nilai kebhinekaan dan persatuan. Dialog antar beragama dan suku yang berbeda merupakan kunci dari toleransi yang harus sering dilakukan. (red)