Prodi Ilmu Komunikasi Eksplorasi Desa Wisata Cokelat Pawon Gendis

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta lakukan kunjungan guna pengabdian
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta lakukan kunjungan guna pengabdian masyarakat di Pawon Gendis tepatnya di Desa Salakmalang Kelurahan Banjarharjo Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo dengan brand lokalnya yang biasa disebut Cokelat Wondis. Kunjungan ini melanjutkan estafet sebelumnya terkait eksplorasi potensi pariwisata ekonomi kreatif dari penduduk setempat.
Kunjungan ini kurang lebih di ikuti oleh 10 Dosen prodi Ilmu Komunikasi. Diharapkan dari kunjungan ini Prodi Ilmu Komunikasi bisa mengetahui potensi yang ada di desa tersebut agar bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menjadi nilai pengabdian dosen-dosen prodi ilmu komunikasi. Awalnya, ketua prodi ilmu komunikasi menuturkan bahwa dulunya ia bersama rekan-rekannya pada tahun 2020 hanya ingin menikmati wisata yang ada di sekitar desa hingga ia bertemu pemilik Pawon Gendis tersebut. "Mari kita bersama eksplorasi potensi yang ada khususnya di Cokelat Wondis ini. Semoga dengan kunjungan ini kita semua bisa saling berbagi kebermanfaat", imbuh kaprodi ilmu komunikasi.
Dalam kesempatan yang baik tersebut, Ketua KWT Pawon Gendis sekaligus pemilik Kedai Cokelat Wondis Dwi Martuti Rahayu senang sekali di kunjungi oleh dosen-dosen program studi Ilmu Komunikasi. Ia banyak sekali bercerita mulai dari sejarah, inovasi hingga pengalamannya sampai bisa membuat brand cokelat lokal yang kini tengah dilirik oleh pemerintah daerah maupun pusat. "Niat awalnya kami hanya ingin mendidik anak-anak setempat untuk lebih mengenal sayur-sayuran, hingga ditantang pemerintah daerah untuk mengolah bahan baku kakao dari Kulon Progo", terangnya sembari memamerkan cokelat yang dicampur sayuran pegagan.
Cokelat-cokelat yang diproduksi oleh Wondis merupakan cokelat lokal yang di dapatkan bahan baku kakaonya dari petani Kulon Progo yang kemudian diolah menjadi beberapa varian yang harganya bervariasi. Pemilik wondis juga mempunyai cita-cita rumah produksi ini tidak hanya sebagai tempat produksi bahkan nantinya bisa sebagai tempat edukasi khususnya anak-anak. "Kami sekarang menggandeng anak-anak SMP sebagai kakak pelatih untuk sanggar anak wondis, selain itu kami bekerja sama dengan rekan-rekan kami untuk membuat batik eco print, dan semoga nantinya kami bisa menjadi wisata edukasi yang menjadi icon di Kulon Progo", imbuhnya sembari mengajak dosen-dosen ilmu komunikasi berkeliling ruang produksi dan sekitaran tempat.
Kunjungan eksplorasi desa wisata ini memberikan pandangan bahwa masih banyak potensi-potensi penduduk lokal untuk membuat produk UMKM yang nantinya bisa bersaing ditingkat nasional maupun internasional. Potensi-potensi ini harus di dukung bersama-sama dari segala bidang agar membuat pelaku-pelaku usaha lokal ini semakin berkembang.