Dosen UIN Sunan Kalijaga Bahas Propaganda dan Media Digital di Universitas Hasanuddin Makassar
Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alip Kunandar, M.Si., menjadi pemateri dalam kuliah umum bertajuk “Propaganda dan Media Digital” yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa, 29 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari ruang akademik untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan propaganda dan perubahan praktik komunikasi di tengah pesatnya transformasi media digital.
Kuliah umum tersebut dibuka oleh Wakil Dekan II FISIP Universitas Hasanuddin, Dr. Alem Febri Sonni, M.Si., sedangkan diskusi dipandu oleh Dr. Indrayanti, S.Sos, M.Si, Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Unhas yang bertindak sebagai moderator. Kegiatan diikuti oleh sivitas akademika dan mahasiswa FISIP Universitas Hasanuddin.
Dalam pemaparannya, Alip Kunandar menguraikan propaganda sebagai salah satu fenomena penting dalam kajian komunikasi dan media. Menurutnya, propaganda bukan merupakan fenomena baru, melainkan telah berkembang mengikuti perubahan teknologi komunikasi, mulai dari media cetak, radio, film, televisi, hingga media digital.
Perkembangan teknologi digital, menurut Alip, telah membawa perubahan signifikan terhadap cara propaganda diproduksi dan disebarluaskan. Jika pada era media massa konvensional arus informasi cenderung lebih terpusat pada institusi media, maka pada era digital proses produksi dan distribusi pesan berlangsung jauh lebih kompleks karena melibatkan platform digital, algoritma, pengguna media sosial, influencer, komunitas daring, hingga jaringan pertemanan.
“Di era digital, masyarakat bukan hanya menjadi penerima pesan propaganda, tetapi juga dapat menjadi produsen sekaligus distributor pesan. Sebuah pesan dapat diproduksi oleh satu aktor, kemudian direproduksi, dimodifikasi, dan disebarluaskan oleh ribuan bahkan jutaan pengguna,” jelas Alip.
Dalam kuliah umum tersebut, Alip juga membahas sejumlah teknik propaganda yang selama ini dikenal dalam kajian komunikasi, seperti bandwagon, testimonial, plain folks, transfer, name calling, glittering generalities, dan card stacking. Teknik-teknik tersebut, menurutnya, tidak hilang dalam perkembangan media digital, tetapi mengalami adaptasi dalam bentuk dan cara penyampaiannya. Selain itu juga dibahas mengenai teknik-teknik baru yang berkaitan dengan perkembangan teknologi komunikasi, khususnya yang berbasis digital dan Artificial Intelligence (AI).
Berbagai teknik propaganda tersebut dapat ditemukan dalam bentuk konten media sosial, video pendek, meme, tagar, komentar, visual, maupun narasi yang dikembangkan oleh akun-akun tertentu. Bahkan, sebuah pesan propaganda dapat memperoleh kekuatan lebih besar ketika memperoleh engagement tinggi dan kemudian mendapatkan distribusi lebih luas melalui mekanisme algoritma platform. Hal ini membuat praktik propaganda semakin samar dan kadang tidak disadari oleh khalayak.
Selain membahas teknik propaganda, Alip menyoroti pentingnya memahami hubungan antara propaganda, algoritma, dan ekonomi perhatian (attention economy). Dalam lingkungan media digital, perhatian pengguna menjadi sumber daya penting. Konten yang mampu menarik perhatian, memicu emosi, atau mendorong interaksi berpotensi memperoleh jangkauan yang lebih besar.
Karena itu, menurut Alip, memahami propaganda digital tidak cukup hanya dengan melihat isi sebuah pesan. Analisis juga perlu diarahkan pada “siapa yang memproduksi pesan, kepentingan yang berada di baliknya, bagaimana pesan dikonstruksi, bagaimana pesan didistribusikan, serta bagaimana karakteristik platform turut menentukan sirkulasi pesan tersebut.”
Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan pentingnya literasi digital. Masyarakat perlu memiliki kemampuan kritis dalam menghadapi banjir informasi di ruang digital, terutama karena tidak semua informasi yang viral atau memperoleh engagement tinggi memiliki nilai kebenaran dan kepentingan publik.
“Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan membaca pesan secara kritis. Kita perlu bertanya siapa yang berbicara, untuk kepentingan apa, bagaimana pesan tersebut dibuat, dan mengapa pesan itu menjadi viral,” lanjut Alip.
Kegiatan kuliah umum ini menunjukkan kontribusi sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga dalam memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan gagasan di antara perguruan tinggi. Kehadiran dosen UIN Sunan Kalijaga sebagai pemateri juga menjadi bagian dari penguatan jejaring akademik dan kolaborasi keilmuan, khususnya dalam bidang komunikasi, media, dan masyarakat digital.
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami propaganda tidak hanya sebagai praktik komunikasi persuasif, tetapi juga sebagai fenomena yang berkaitan erat dengan media, kekuasaan, teknologi, algoritma, dan perilaku khalayak. Pemahaman tersebut penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat menjadi pengguna media digital yang lebih kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.