Kupas Tuntas Reputasi Digital di Era AI, Prodi Ilmu Komunikasi Gelar Kuliah Umum Bersama Kaprodi Jurnalistik Universitas Bengkulu
YOGYAKARTA – Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Personal Branding dan Reputasi Digital di Era AI”. Bertempat di Conference Room Lt. 1 FISHUM, acara yang berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026 ini dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2025 dengan antusiasme tinggi.
Acara akademik ini dibuka secara resmi dengan sambutan dari Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Dr. Mokhamad Mahfud, S.Sos.I., M.Si.. Setelah sesi pembukaan, agenda dilanjutkan dengan pemaparan materi inti yang dipandu secara interaktif oleh dosen Ilmu Komunikasi, Ummu Samhah Mufarrihah, M.A., yang bertindak selaku moderator.
Dalam kuliah umum ini, prodi menghadirkan narasumber pakar, yakni Kaprodi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu, Yuliati, S.Sos., M.I.Kom.. Dalam pemaparannya, Yuliati mengajak mahasiswa untuk merefleksikan peran mereka di tengah disrupsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Ia menjelaskan bahwa meskipun AI memberikan kemudahan luar biasa dalam memproduksi berbagai format konten dengan cepat, ada satu hal esensial yang tidak bisa digantikan oleh mesin, yakni kepercayaan.
"Kepercayaan dan reputasi tetap murni dibangun oleh manusia. Semua orang bisa viral, tapi tidak semua orang bisa dipercaya," tegas Yuliati menyoroti fenomena media sosial saat ini. Ia membedah kekeliruan yang kerap terjadi di masyarakat, di mana viralitas dan jumlah pengikut sering disamakan dengan kredibilitas dan reputasi yang baik. Padahal, popularitas yang lahir dari kontroversi umumnya tidak akan bertahan lama karena kurangnya konsistensi.
Lebih lanjut, Yuliati mengingatkan urgensi menjaga rekam jejak digital. Mengutip riset CareerBuilder, ia memaparkan bahwa saat ini 70 persen perusahaan menelusuri media sosial pelamar kerja, dan bahkan 54 persen di antaranya pernah membatalkan kandidat hanya karena jejak digital yang buruk. Oleh karena itu, ia menekankan agar mahasiswa Ilmu Komunikasi mulai mengolah pesan dengan profesional dan menerapkan prinsip "Saring sebelum Sharing". Apa pun yang diunggah dan dikomentari di ruang maya pada akhirnya akan membentuk persepsi publik dan menjadi portofolio yang tidak bisa dihapus sepenuhnya.
Menutup pemaparannya, Yuliati berpesan bahwa personal branding bukanlah ajang pencitraan untuk tampil sempurna, melainkan upaya untuk menjadi individu yang konsisten dan bernilai. Di era AI ini, mahasiswa komunikasi dituntut untuk tidak hanya sekadar mahir membuat konten atau mengikuti tren, tetapi juga harus mampu membangun kredibilitas, berpikir etis, dan mengedepankan empati dalam berkomunikasi. Melalui pembekalan ini, para mahasiswa diharapkan siap merancang identitas digital yang profesional dan tangguh untuk bersaing di dunia kerja masa depan. (K.Ind)